Apartemen TOD, untuk Milenial Tapi Harganya Mahal

Dalam sebuah acara, pejabat tinggi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang membidangi perumahan menyebut, hunian dengan konsep transit oriented development (TOD) cocok untuk kaum milenial. Alasannya, milenial adalah generasi yang mengutamakan mobilitas. Karena itu butuh hunian yang mudah dan cepat diakses dari berbagai pusat kegiatan. Hunian dengan konsep TOD yang terintegrasi moda transportasi massal memenuhi aspirasi itu.
Tapi, apa yang dikatakan pejabat tinggi PUPR itu sulit diwujudkan dalam kenyataan. Soalnya, harga hunian TOD yang umumnya berupa apartemen itu terlampau mahal bagi sebagian besar milenial yang pendapatannya masih terbatas. Termasuk harga apartemen di proyek milik badan usaha milik negara (BUMN) seperti Perumnas dan Adhi Commuter Property (ACP). Sudah begitu, ukurannya juga terlalu mungil sehingga hanya cocok untuk milenial bujangan. Bila sudah menikah, apalagi punya anak, terlalu sulit bagi si milenial untuk tetap tinggal di apartemen tersebut.
Apartemen Samesta Mahata MargondaDi Samesta Mahata Margonda besutan Perum Perumnas yang terintegrasi stasiun KRL Pondok Cina, Kota Depok (Jawa Barat, misalnya. Harga unitnya sudah Rp800 jutaan tipe 36,34 m2 (semigross) satu kamar tidur atau Rp22 jutaan/m2. Bila dibeli dengan kredit pemilikan apartemen (KPA) 15 tahun, bunga 12% per tahun, dan depe 20%, angsurannya Rp7 jutaan per bulan. Hanya terjangkau konsumen berpenghasilan di atas Rp20 juta per bulan. Ada juga tipe unit yang lebih kecil, tapi sudah lama ludes.
Di Samesta Mahata Tanjung Barat yang terintegrasi stasiun KRL Tanjung Barat, Jakarta Selatan, harganya lebih tinggi lagi. Tipe satu kamar tidur 25 m2 (semi gross) contohnya, dilepas Rp700 juta atau sekitar Rp28 juta/m2. Yang lebih rendah di Samesta Mahata Serpong yang terintegrasi stasiun KRL Rawabuntu, Serpong, Tangerang (Banten). Unit tipe studio 21,9 m2 dan tipe dua kamar 35,98 m2 dilego Rp450-Rp479 jutaan/unit atau sekitar Rp20 jutaan/m2 bila dibeli secara kredit. Itu harga unit di lantai 31-38. Makin rendah lantainya, kian tinggi harga unitnya karena penghuni lebih cepat mencapai stasiun.
Harga apartemen di TOD LRT City besutan ACP yang terintegrasi dengan stasiun LRT Jabodetabek juga sama. Di LRT City Eastern Green di Bekasi Timur yang terintegrasi stasiun LRT Jatimulya, Kota Bekasi, misalnya. Unit satu kamar tidur 27,11 m2 dilepas mulai dari Rp614 juta atau Rp22 jutaan/m2. Jangan tanya apartemen TOD yang dikembangkan pengembang swasta. Harganya lebih tinggi lagi.
Direktur Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda sependapat, harga apartemen TOD ketinggian bagi kebanyakan milenial. Menurutnya, seharuanya sejak awal harga apartemen TOD yang dikembangkan BUMN dibatasi pemerintah. Misalnya, antara Rp300-400 jutaan untuk tipe terkecil. Jadi, bisa dijangkau lebih banyak milenial. Tidak dibiarkan melesat mengikuti mekanisme pasar seperti sekarang. Dari harga Rp300 jutaan saat baru dilansir 4-5 tahun lalu, kini sudah Rp500-600 jutaan untuk tipe terkecil. "Kalau seperti ini, apartemen TOD itu akan kosong atau jadi objek investor. Melenceng dari misi awalnya menyediakan hunian untuk kaum muda yang mudah dicapai dari pusat-pusat kegiatan di perkotaan," katanya kepada AyoProperti pekan lalu.