Awas! Jebakan Bunga Rendah

Rendahnya pertumbuhan penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) membuat bank-bank seperti berlomba menawarkan bunga promo yang rendah atau bahkan super rendah, demi memikat pembeli rumah menjadi debitur (peminjam). AyoProperti sudah memberitakan penawaran bunga promo yang rendah dari sebagian bank itu pada artikel sebelumnya.
Sepintas penawaran bunga rendah fixed (tetap) selama beberapa tahun pertama tenor KPR itu terlihat menyenangkan, karena memungkinkan kamu membayar cicilan yang ringan. Tapi, di sisi lain penawaran bunga rendah itu juga bisa menjadi jebakan bila kamu tidak mengantisipasinya sejak awal.
Supaya tidak masuk jebakan itu, sejak awal pastikan kamu menghitung cicilan KPR berdasarkan bunga pasar efektif floating (mengambang), bukan bunga promo atau bunga subsidi developer yang berlaku fixed satu tahun atau lebih itu. Dengan demikian kamu tahu persis bahwa kamu memang mampu mencicil KPR yang diminta, dan tidak kaget saat angsuran melonjak ketika masa bunga promo itu berakhir.
Sebagai contoh, dengan KPR 15 tahun, depe 10%, dan bunga promo 5 persen fixed 2 tahun, cicilan rumah seharga Rp300 juta hanya Rp2,1 jutaan per bulan. Tapi, setelah masa bunga fixed itu berakhir dan bunga KPR berubah menjadi bunga pasar, katakanlah 12 persen, cicilannya meningkat lebih dari Rp1 juta menjadi Rp3,2 jutaan per bulan. Sangat memberatkan bagi debitur dari kalangan muda menengah yang penghasilannya masih terbatas. Jadi, sejak awal hitung kemampuan mencicil berdasarkan bunga pasar, supaya KPR kamu tidak bermasalah di belakang hari. Bunga promo yang murah meriah selama beberapa tahun pertama itu anggap saja sebagai bonus.