Kamu Wajib Punya Rumah Sendiri, Supaya Tidak Merana di Hari Tua

Punya rumah sendiri itu wajib menjadi prioritas utama kaum muda dalam kehidupannya. Yang yang dimaksud prioritas itu berarti kamu benar-benar komit mau membelinya. Untuk itu begitu sudah bekerja dan punya penghasilan sendiri, kamu sudah harus mulai membuat perencanaan tentang bagaimana cara mendapatkan rumah itu.
“Yaitu, dengan menyisihkan sebagian penghasilanmu secara rutin untuk uang muka rumah,” kata pakar perencanaan keuangan Prita Ghozie dalam sebuah diskusi mengenai keuangan keluarga di Jakarta beberapa waktu yang lalu.
Pembelian rumah itu sebaiknya menggunakan kredit pemilikan rumah/apartemen (KPR/KPA) dari perbankan, supaya pembayarannya bisa dicicil dan tidak memberatkan kamu. Untuk itu kamu bisa window shopping produk KPR/KPA dari berbagai bank di internet, sebelum memilih yang paling sesuai dengan kemampuan finansial atau mencicil kamu.
Punya rumah sendiri itu, jelas Prita, penting karena itu berarti kamu memiliki aset tetap yang bisa langsung dinikmati (dihuni) sekaligus menjadi investasi. “Setiap orang perlu punya aset tetap seperti rumah dalam hidupnya. Kalau selamanya menyewa, kamu akan merana di masa tua,” kata founder ZAP Finance itu.
Punya rumah sendiri juga membuat hidup kamu lebih fleksibel. Kamu bisa saja selamanya tinggal di rumah orang tua atau mertua, bahkan setelah berkeluarga. Misalnya, karena orang tua atau mertua meminta demikian. Tapi, tinggal bersama orang tua atau mertua, apalagi setelah berkeluarga, pasti ada saja masalahnya. Kamu pun tidak leluasa menjalani hidup dengan fleksibel.
Kalau berkaca pada berbagai survei, kebanyakan kaum muda menempatkan punya rumah sendiri sebagai prioritas dalam hidupnya. Namun, komitmen mereka merealisasikan prioritas itu masih rendah. Itu terlihat dari sedikitnya mereka yang secara konsisten menyisihkan penghasilannya untuk uang muka rumah. Jangan heran kalau Menteri BUMN Erick Thohir menyatakan, saat ini 81 juta kaum milenial (usia di bawah 40 tahun) belum punya rumah.
Menurut Prita, kaum muda saat ini memang cenderung lebih sulit membeli rumah, karena digoda begitu banyak penawaran produk di gadget-nya. Akibatnya, mereka jadi abai menyisihkan sebagian penghasilannya untuk kebutuhan primer seperti rumah. Kalaupun mereka mengajukan kredit rumah, umumnya ditolak bank karena kemampuan mencicilnya tidak memadai.