Tadinya Gedung Ini Akan Menjadi yang Tertinggi di Indonesia

Bicara gedung tertinggi, tadinya bukan Autograph Tower dan Luminary Tower di superblok Thmarin Nine, Jl MH Thamrin, Jakarta, yang akan dinobatkan menjadi gedung tertinggi, tapi Signature Tower di kawasan Sudirman Central Business District (SCBD), Jl Jend Sudirman, Jakarta. Rencana pembangunannya muncul tahun 2012. Pengembangnya PT Grahamas Adisentosa, anak usaha PT Danayasa Arthatama Tbk, pengembang kawasan superblok SCBD. Signature Tower akan difungsikan sebagai perkantoran, apartemen, dan hotel.
Gedung super jangkung ini dirancang Smallwood, Reynolds, Stewart, Stewart and Associates Inc setinggi 638 meter (111 lantai), atau menjadi gedung megatall pertama di Indonesia. Council on Tall Building and Urban Habitat (CTBUH) membagi gedung tinggi dalam 3 kategori. Yaitu, skyscrapers (tinggi > 150 m), supertall (>300 m), dan megatall (>600 m). Kalau jadi diwujudkan, Signature Tower akan didapuk menjadi gedung tertinggi ke-5 di dunia.
Signature TowerTapi, rencana pembangunannya kempes karena ada perubahan desain dan Koefisien Lantai Bangunan (KLB), serta kurang kondusifnya kondisi pasar perkantoran di kawasan pusat bisnis utama (CBD) Jakarta yang pasoknya sudah berlebihan. Apalah gunanya membangun gedung super tinggi senilai belasan triliun rupiah kalau tidak ada penyewanya, bukan?
Sampai sekarang belum ada kabar apakah Signature Tower jadi dikembangkan atau selamanya dihentikan?
Yang sudah mulai berjalan pembangunannya sejak awal 2023 adalah Green Energy Superblock Oasis Central Sudirman (3,3 ha) di Jl Jend Sudirman. Pengembangnya PT Dana Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri (Persero) atau Taspen, berkolaborasi dengan Mitsubishi Estate (Jepang). Seperti dikutip Kompas.com, saat peletakan batu pertama atau ground breaking, Direktur Utama Taspen ANS Kosasih menyatakan, Oasis Central Sudirman akan menjadi landmark terbesar di Jakarta.
Di kawasan akan dikembangkan dua gedung setinggi 276 meter dan 331 meter. Oasis Central Sudirman dikembangkan dengan konsep hijau dan teknologi anti-gempa dari Jepang. Menara pertama 65 lantai akan difungsikan sebagai apartemen strata. Sedangkan menara kedua 75 lantai yang sudah masuk kategori supertall diperuntukan sebagai area perkantoran, apartemen servis, serta ritel komersial. Masa konstruksi Oasis Central Sudirman direncanakan selama 10 tahun atau sampai 2033.
Namun, ambisi Oasis Central Sudirman menjadi gedung tertinggi dan supertall pertama itu pupus, menyusul rampungnya Luminary Tower dan Autograph Tower di kawasan Thamrin Nine tahun ini. Autograph Tower memiliki ketinggian 385 meter (75 lantai + 3 lantai dek observasi), sedangkan Luminary Tower 305 meter 62 lantai. Predikat Autograph Tower sebagai gedung tertinggi itu dikukuhkan oleh Rekor MURI yang sertifikatnya diterima Galeon Group (pengembang Thamrin Nine) akhir pekan lalu.
Jauh sebelumnya lagi, di penghujung kekuasaan Orde Baru, sudah lebih dulu digadang-gadang rencana pembangunan gedung supertall di kawasan Kemayoran, Jakarta. Tingginya mencapai 558 meter yang juga akan diisi aneka fungsi (hunian, perkantoran, hotel, dan lain-lain). Namanya Menara Jakarta. Tapi, seperti Signature Tower, rencana pembangunan Menara Jakarta itu juga kempes, diganti dengan pengembangan blok-blok apartemen, mal, perkantoran, dan lain-lain. Menara tertingginya pun belum memenuhi kategori supertall, hanya 280 meter. Di luar itu masih ada rencana pembangunan supertall yang ditunda seperti Menara Peruri dan Pertamina Tower.
Dibanding negara-negara tetangga, Indonesia memang tertinggal dalam hal membangun gedung penembus langit. Malaysia sudah jauh lebih dahulu membangunnya. Juga Thailand dan Vietnam. Malaysia paling agresif membangunnya, terutama di Kuala Lumpur. Tapi, pembangunan gedung supertall dan megatall itu memang tak perlu dipaksakan, harus disesuaikan dengan keadaan. Dengan investasi belasan triliun rupiah, tarif sewa gedung-gedung maha tinggi itu pasti jauh lebih mahal. Pada saat bersamaan pasok ruang kantor di CBD Jakarta membanjir yang membuat harga sewanya tertekan. Anggun Melati, Head of Marketing Galeon Group, tarif sewa di Autograph Tower mulai dari Rp300 ribuan/m2. Tapi, itu tarif standar. Tarif yang sesungguhnya tergantung space yang disewa. Makin kecil, tarif sewa per m2 makin tinggi.