Penjualan Rumah Masih Payah

Ilustrasi Rumah Tipe Besar - Citra Garden Sidoarjo
Ilustrasi Rumah Tipe Besar - Citra Garden Sidoarjo (dok. HousingEstate)

Kondisi pasar properti residensial atau rumah tapak di pasar primer (yang dikembangkan dan dipasarkan developer real estate) masih melempem. Secara tahunan pada triwulan II-2023 misalnya, penjualannya terkontraksi (minus) 12,30% atau lebih dalam dibanding kontraksi pada triwulan II (yoy) yang tercatat 8,26%.

Menurut Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia (BI) yang dikutip AyoProperti.com dari situs bi.go.id, terkontraksinya penjualan rumah di pasar primer pada triwulan II-2023 itu, terutama dipengaruhi oleh masih payahnya penjualan rumah tipe kecil dan tipe menengah yang masing-masing terkontraksi 15,81% dan 15,17%. Sementara penjualan rumah tipe besar pada periode yang sama justru melesat 15,11%, setelah terkontraksi (minus) 6,82% pada triwulan I (yoy).

Berdasarkan informasi dari responden (para developer real estate yang disurvei BI), sejumlah faktor klasik menghambat penjualan properti residensial di pasar primer. Antara lain, masalah perizinan/birokrasi (30,40%), bunga KPR yang masih tinggi (29,52%), ketentuan uang muka yang besar dalam pengajuan KPR (22,79%), dan masalah perpajakan (17,29%).

Secara triwulanan (qtq), penjualan rumah pada triwulan II-2023 sebenarnya sudah kembali positif sebesar 6,59%, setelah terkontraksi atau minus pada triwulan I. Peningkatan penjualan rumah pada triwulan II itu didorong oleh kenaikan penjualan rumah tipe kecil dan tipe besar. Peningkatan penjualan terbesar dicatat rumah tipe besar sebesar 22,48%, disusul rumah tipe kecil 9,89%. Sementara penjualan rumah tipe menengah yang pangsa pasarnya paling besar, pada triwulan II merosot alias terkontraksi sebesar 4,83% dibanding triwulan I.