Di Kota Rumah Mungil itu Keniscayaan

Kebanyakan orang mengidamkan rumah besar. Rumah mungil di atas kaveling kecil kerap dikeluhkan. Padahal di kota, apalagi kota besar, rumah mungil adalah keniscayaan. Bukan hanya karena stok tanah sangat terbatas dan mahal, tapi juga karena di kota umumnya orang lebih banyak beraktifitas di luar rumah. Rumah berfungsi lebih sebagai "hotel". Selain itu di kota yang padat, rumah memang seharusnya kompak, agar tetap tersedia ruang terbuka yang cukup. Dengan bangunan yang kecil, harga rumah juga lebih terjangkau, selain praktis diurus serta mudah dipelihara.
Kelebihan lain rumah mungil, “kemana-mana dekat”, merujuk kepada ruangnya yang terbatas. Pernyataan ini memang kerap dikemukakan sebagai olok-olok, tapi sesungguhnya ada benarnya. “Di rumah mungil, hubungan antar-penghuni akan lebih dekat dan akrab,” kata Farrizky Astrawinata, seorang profesional arsitek di Jakarta, dalam sebuah wawancara beberapa waktu lalu.
Di rumah kecil, komunikasi antar penghuni juga lebih lancar, semua masalah di rumah cepat diketahui sehingga bisa dibicarakan segera solusinya, toleransi dan kerjasama lebih mudah dipupuk. Bayangkan bentuk relasi, suasana, sikap, budaya, dan cara berkomunikasi yang terbentuk di rumah besar dengan setiap penghuni punya kamar sendiri dilengkapi kamar mandi, sarana hiburan, dan lain-lain di dalamnya. Cuek, egois, individualistis, dan sibuk dengan diri masing-masing. Komunikasi lebih tidak mudah, problem penghuni tidak cepat diketahui, biaya perawatan rumah juga lebih besar.
Memang, ruang yang terbatas bisa memicu masalah di rumah mungil. Yaitu, problem ruang gerak yang bisa memicu gesekan atau konflik dan penyimpanan barang. Namun, masalah itu bisa diatasi melalui desain dan penataan ruang serta perubahan gaya hidup menjadi sepraktis mungkin. Barang-barang misalnya, yang dipertahankan yang memang diperlukan. Selebihnya diapkir atau diberikan kepada yang lebih membutuhkan. Barang pajangan juga secukupnya.
Dan yang lebih penting, di rumah mungil kita harus belajar toleran, sabar, saling menghargai dan menahan diri, sehingga rumah terasa hangat. Mandi misalnya, harus bergiliran. Ketika minibar atau meja makan dipakai untuk belajar, penghuni yang lain harus rela mematikan dulu pesawat TV. Berbicara juga lembut saja. Orang tua juga harus berusaha mengontrol emosi dan berbicara baik-baik di kamar bila berselisih.
Duduk sendiri bersempit-sempit, duduk bersama berlapang-lapang. Begitulah kredo hidup di rumah mungil. Artinya, di rumah mungil hidup tetap terasa lapang bila ada kesadaran, tenggang rasa, tidak semaunya. Bukankah budaya itu yang dibutuhkan di sebuah kota yang sesak dan majemuk?