Produk Dekorasi Rumah dari Limbah Spare Part Kendaraan Bermotor

Bank BNI sukses mendorong pengembangan usaha menengah kecil dan mikro (UMKM) sehingga bisa naik kelas dan proaktif mengimplementasikan konsep bisnis yang berkelanjutan (sustainable). Salah satu UMKM yang didukung BNI itu adalah El Art yang bergerak di bidang kerajinan. El Art adalah salah satu UMKM unggulan di Harjasari, Suradadi, Tegal (Jawa Tengah) yang sempat memamerkan produk kerajinannya di ajang Inacraft, JCC Jakarta Oktober lalu. El Art sukses mengubah limbah spare part kendaraan bermotor roda dua dan empat, menjadi dekorasi rumah yang bernilai.
Pemilik El Art Edi Waluyo menyatakan, ide usaha kerajinan itu dimulainya saat masa pandemi Covid-19. Ia banting setir dari usaha kuliner ke bidang kerajinan. Perubahan bidang usaha itu dimulai saat ia resah melihat banyak limbah spare part kendaraan bermotor dari bengkel di sekitar rumahnya yang tidak dimanfaatkan maksimal. Dari situ muncul gagasan mengubah limbah itu menjadi kerajinan tangan (craft) sekaligus ladang bisnis.
"Saya lihat di bengkel-bengkel di sekitar daerah saya banyak limbah spare part yang hanya dijual kiloan kepada pemulung. Saya merasa ini potensi bisnis kalau misalkan limbah itu bisa diolah jadi sebuah karya, punya nilai jual lebih tinggi," ujar Edi seperti diktuip siaran pers Bank BNI awal pekan ini.

Dengan dasar seni yang dimilikinya sejak kecil ditambah belajar secara otodidak melalui media sosial, Edi berhasil membuat aneka kerajinan dari limbah spare part tersebut, seperti jam meja, jam meja sekaligus lampu meja, dan tempat kartu nama. Saat ini pasar bearing clock, owl clock, mini owl, dan piston clock karya El Art itu masih didominasi korporasi sebagai souvenir di acara tertentu.

"Ketika tahu pangsa pasar produk seni di Indonesia masih kecil, saya bikin seni terapan seperti mini owl atau lampu piston. Jadi, karya seni tapi juga ada fungsinya atau fungsional," jelas Edi. Ia lebih banyak memasarkan karyanya secara online (lewat web dan media sosial) ditambah pameran (offline). "Pemasaran lebih banyak melalui web kita sendiri, media sosial Instagram hanya untuk branding," ujarnya.
